Jamstreet Kembangkan Ekosistem Digital Nasional, Dorong Literasi Teknologi hingga Desa
KONTRASBANTEN.COM, SERANG – Platform transportasi online Jamstreet memperkenalkan konsep layanan digital terintegrasi yang menggabungkan transportasi online, marketplace, koperasi desa, serta sistem poin berbasis aset digital. Inovasi ini diklaim mampu memberikan nilai tambah bagi pengemudi, pengguna, dan pelaku usaha lokal dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Dalam pemaparannya, pihak Jamstreet menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama platform tersebut dibandingkan layanan transportasi online lainnya adalah skema pembagian keuntungan yang lebih berpihak kepada mitra pengemudi.
“Potongan yang kami terapkan hanya sebesar 5 persen. Bahkan untuk wilayah Batam terdapat program khusus dengan biaya transaksi yang sangat ringan melalui e-wallet yang kami miliki,” ujar perwakilan Jamstreet.
Selain memberikan keuntungan lebih besar kepada pengemudi, Jamstreet juga menerapkan sistem penghargaan bagi pengguna. Setiap transaksi yang dilakukan melalui aplikasi akan menghasilkan poin digital yang dapat dimanfaatkan dalam ekosistem layanan yang dikembangkan perusahaan.
Menurut pihak perusahaan, konsep tersebut dirancang dengan pendekatan gamification guna meningkatkan interaksi antara pelanggan dan pengemudi, sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi seluruh pengguna aplikasi.
Tidak hanya berfokus pada sektor transportasi, Jamstreet juga mengembangkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pembentukan koperasi di tingkat desa. Program ini bertujuan membantu masyarakat mengembangkan usaha lokal dengan dukungan akses teknologi, pembiayaan, serta pendampingan usaha.
“Kami membangun koperasi di kampung-kampung sebagai sarana finansial dan dukungan usaha bagi masyarakat desa agar potensi ekonomi yang dimiliki dapat berkembang secara optimal,” jelasnya.
Koperasi yang dibentuk nantinya akan terhubung langsung dengan marketplace dalam ekosistem Jamstreet. Melalui sistem tersebut, transaksi masyarakat diharapkan mampu meningkatkan perputaran ekonomi lokal sekaligus memperluas pasar bagi produk-produk UMKM.
Di sisi lain, perusahaan menilai tingkat literasi digital masyarakat masih menjadi tantangan besar, terutama dalam memahami perkembangan teknologi seperti blockchain, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan aset digital.
Karena itu, Jamstreet mengaku aktif melaksanakan berbagai program edukasi dan literasi digital yang menyasar sekolah, perguruan tinggi, hingga komunitas masyarakat.
“Dalam beberapa bulan terakhir kami cukup intens melakukan edukasi agar masyarakat memahami perkembangan teknologi digital serta peluang yang dapat dimanfaatkan dari kemajuan teknologi tersebut,” katanya.
Menurut Jamstreet, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mengejar ketertinggalan teknologi dibandingkan sejumlah negara maju. Oleh sebab itu, peningkatan literasi digital dinilai menjadi langkah penting agar masyarakat mampu beradaptasi dan berdaya saing di era transformasi digital.
Terkait penggunaan aset digital dalam platformnya, Jamstreet menegaskan bahwa seluruh transaksi tetap menggunakan mata uang rupiah sebagai alat pembayaran yang sah. Adapun poin atau token utilitas yang diberikan kepada pengguna hanya berfungsi sebagai bagian dari ekosistem aplikasi dan tidak menggantikan fungsi mata uang resmi.
Saat ini Jamstreet mengklaim telah beroperasi selama sekitar empat hingga lima bulan dengan hampir 20 ribu pengguna terdaftar. Selain itu, terdapat sekitar 1.000 pengemudi aktif dan 150 hingga 200 merchant yang telah bergabung dalam platform tersebut.
Ke depan, perusahaan akan terus memperluas jaringan merchant serta mengembangkan berbagai layanan baru guna memperkuat ekosistem digital yang dibangun dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi seluruh pemangku kepentingan.